Saturday, February 7, 2015

Trasidi Adat Ngarot di Desa Lelea Indramayu



Tradisi adat adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Seperti kebiasaan atau ajaran yang turun temurun dari nenek moyang seperti halnya adat tradisi Ngarot yang di lakukan secara rutin tiap tahunnya oleh masyarakat Desa Lelea kecamatan Cikedung kabupaten Indramayu Jawa Barat.
Tradisi adat Ngarot dilakukan pada saat tibanya musim menggarap sawah, yaitu; menjelang musim hujan. Masyarakat sekitar menyebutnya musim rendeng atau sekitar bulan Oktober sampai Desember. Adapun harinya tiap tahun ditetapkan hari Rabu yang dipercayai oleh  masyarakat bahwa hari Rabu mempunyai sifat bumi yang cocok untuk mengawali musim tanam.
Ngarot berasal dari kata ”Nga–rot” (basa Sunda) yaitu istilah minum/ngaleueut. Adat ini melibatkan muda-mudi untuk turut serta dalam upacara tesebut. Uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini.
Karena jika pemuda atau pemudi sudah tidak suci atau tidak perawan lagi, konon akan terlihat tidak menarik di mata para peserta ngarot. Dalam upacara ini, para gadis desa peserta upacara dihias dengan mahkota bunga di kepalanya sebagai lambang kesucian.
Selain itu juga para gadis memakai kebaya warna biru muda dan para pemuda memakai pakaian serba hitam, dengan ikat kepala yang melekat di kepalanya.
Tradisi adat ini sebagai simbolis untuk serah terima amanat kepada pemuda-pemudi untuk meneruskan denyut nadi pertanian sebagai sumber mata pencaharian masyarakat agraris meski pada kenyataanya pemuda-pemudi masyarakat Desa Lelea sudah banyak yang memilih untuk merantau di luar kota bahkan sampai ke luar negeri dengan alasan yang berbeda- beda.
Sebelum acara dimulai, para gadis dihias dengan baju adat daerah seperti kebaya berwarna merah dan hiasan bunga melati dan kenanga juga berbagai bunga replika sebagai lambang akan pentingnya setiap gadis menjaga kesucianya. Dan bagi jejakanya memakai baju hitam dan celana pangsi hitam dengan ikat kepala yang disebut masyarakat sekitar dengan nama Baju Komboran  sebagai lambang keperkasaan dan keuletan seorang pemuda yang arief dan bijaksana dalam menempuh hidup.
Dan uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini, dimana jika bunga kenanga dan melati yang di jadikan sebagai hiasan di kepalanya layu seketika, maka itu menandakan si gadis sudah tidak suci atau tidak perawan lagi. Masyarakat sekitar meyakini jika yang mengikuti tradisi adat Ngarot sudah tidak suci maka mereka akan kena apes atau kesialan dalam hidupnya.
Para peserta yang ikut dalam tradisi adat ini harus benar-benar asli putra-putri keturunan dari bapak atau ibu dari Desa Lelea dan diutamakan yang menetap di desa tersebut. Setelah selesai dihias pemuda dan pemudi di arak keliling kampung dan di iringi dengan gamelan kesenian setempat. Acara dimulai sekitar jam 08:00 pagi sampai jam 16:00. Kemudian para pemuda-pemudi kumpul di Balai Desa untuk bertemu dengan kepala desa dan sesepuh desa setempat di saksikan masyarakat setempat, dan bahkan dari luar Desa. mereka disambut kesenian tradisional seperti Bajiduran dan Tari Topeng, dll. Setelah selesai acara penyambutan, maka dimulailah acara Serah Terima Amanat kepada pemuda-pemudi berupa benih padi dan alat pertanian yang diharapkan meneruskan denyut nadi perekonomian dengan cocok tanam padi.
Sumber : http://misterinewsonline.com/?p=1130

No comments:

Post a Comment