Tradisi
adat adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari
kehidupan suatu kelompok masyarakat. Seperti kebiasaan atau ajaran yang turun
temurun dari nenek moyang seperti halnya adat tradisi Ngarot yang di lakukan secara rutin tiap tahunnya oleh masyarakat
Desa Lelea kecamatan Cikedung kabupaten Indramayu Jawa Barat.
Tradisi
adat Ngarot dilakukan pada saat
tibanya musim menggarap sawah, yaitu; menjelang musim hujan. Masyarakat sekitar
menyebutnya musim rendeng atau sekitar bulan Oktober sampai Desember. Adapun
harinya tiap tahun ditetapkan hari Rabu yang dipercayai oleh masyarakat
bahwa hari Rabu mempunyai sifat bumi yang cocok untuk mengawali musim tanam.
Ngarot berasal dari kata ”Nga–rot”
(basa Sunda) yaitu istilah minum/ngaleueut. Adat ini melibatkan muda-mudi untuk
turut serta dalam upacara tesebut. Uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih
menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini.
Karena jika pemuda atau pemudi
sudah tidak suci atau tidak perawan lagi, konon akan terlihat tidak menarik di
mata para peserta ngarot. Dalam upacara ini, para gadis desa peserta upacara
dihias dengan mahkota bunga di kepalanya sebagai lambang kesucian.
Selain itu juga para gadis memakai
kebaya warna biru muda dan para pemuda memakai pakaian serba hitam, dengan ikat
kepala yang melekat di kepalanya.
Tradisi
adat ini sebagai simbolis untuk serah terima amanat kepada pemuda-pemudi untuk
meneruskan denyut nadi pertanian sebagai sumber mata pencaharian masyarakat
agraris meski pada kenyataanya pemuda-pemudi masyarakat Desa Lelea sudah banyak
yang memilih untuk merantau di luar kota bahkan sampai ke luar negeri dengan
alasan yang berbeda- beda.
Sebelum
acara dimulai, para gadis dihias dengan baju adat daerah seperti kebaya
berwarna merah dan hiasan bunga melati dan kenanga juga berbagai bunga replika
sebagai lambang akan pentingnya setiap gadis menjaga kesucianya. Dan bagi
jejakanya memakai baju hitam dan celana pangsi hitam dengan ikat kepala yang
disebut masyarakat sekitar dengan nama Baju Komboran sebagai lambang
keperkasaan dan keuletan seorang pemuda yang arief dan bijaksana dalam menempuh
hidup.
Dan
uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih menjaga kesuciannya yang boleh ikut
dalam acara ini, dimana jika bunga kenanga dan melati yang di jadikan sebagai
hiasan di kepalanya layu seketika, maka itu menandakan si gadis sudah tidak
suci atau tidak perawan lagi. Masyarakat sekitar meyakini jika yang
mengikuti tradisi adat Ngarot
sudah tidak suci maka mereka akan kena apes atau kesialan dalam hidupnya.
Para
peserta yang ikut dalam tradisi adat ini harus benar-benar asli putra-putri
keturunan dari bapak atau ibu dari Desa Lelea dan diutamakan yang menetap di
desa tersebut. Setelah selesai dihias pemuda dan pemudi di arak keliling
kampung dan di iringi dengan gamelan kesenian setempat. Acara dimulai sekitar
jam 08:00 pagi sampai jam 16:00. Kemudian para pemuda-pemudi kumpul di Balai
Desa untuk bertemu dengan kepala desa dan sesepuh desa setempat di saksikan
masyarakat setempat, dan bahkan dari luar Desa. mereka disambut kesenian
tradisional seperti Bajiduran dan Tari Topeng, dll. Setelah selesai acara
penyambutan, maka dimulailah acara Serah
Terima Amanat kepada pemuda-pemudi berupa benih padi dan alat pertanian yang diharapkan meneruskan denyut
nadi perekonomian dengan cocok tanam padi.
Sumber : http://misterinewsonline.com/?p=1130
Sumber : http://misterinewsonline.com/?p=1130

No comments:
Post a Comment