Pada jaman dahulu ada seorang pemuda
yang mempunyai keinginan untuk menjadi seorang pengembara. Pemuda itu bernama
Jakatarub. Jakatarub adalah seorang pemuda yang bertubuh tegap, gagah dan
cerdas. Demikianlah pengembaraan Jakatarub dari waktu ke waktu ditempuhnya
denga penuh ketenangan dan ketabahan, meskipun banyak mengalami rintangan.
Jakatarub berasal dari Solo. Ia
sampai ke Indramayu sebelum Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam di
Cirebon. Karena takdir yang Maha Kuasa, maka Jakatarub akirnya sampai ke suatu
tempat yang menjadi kisah tak terlupakan, terutama bagi orang-orang Indramayu.
Nama asli Jakatarub adalah Ki Gede
Kirom, sedangkan nama julukannya yaitu Ki Gede Penganjang. Ki Gede Kirom
mempunyai beberapa nama panggilan, diantaranya yaitu:
1.
Ki Jakatarub
2.
Ki Gede Penganjang
3.
Ki Gede Laha, karena ia sebagai
pembuat “laha” (perikanan).
Disebut Ki Jakatarub karena dapat
melindungi masyarakat pada waktu itu. Sedangkan nama Ki Gede Penganjang karena
mulai saat itulah ditinggalkannya anjang-anjang.
Di tempat pengembaraannya itu,
Jakatarub menemui beberapa bidadari yang sedang bersuka ria sambil mandi di
sebuah telaga yang bening airnya. Tempat itu bernama Sumur Krapyak. Melihat
kejadian itu, Jakatarub berkeinginan untuk menyaksikan lebih dekat agar lebih
jelas siapa bidadari-bidadari itu. Ia mulai mengintai dari balik pepohonan yang
ada di sekitar sumur.
Setelah bidadari itu puas bermain,
maka pulanglah mereka ke kahyangan (langit). Tetapi salah satu dari mereka itu
tidak dapat terbang karena baju antrakusumanya hilang. Jakatarub senang melihat
bidadari itu tidak dapat pergi. Ia sengaja menyembunyikannya dengan tujuan
supaya bidadari itu mau dijadikan istri. Kemudian ia menegur dan membujuk
bidadari itu agar mau dikawini. Setelah permintaan Jakatarub itu dipenuhi, maka
sejak saat itu mereka menjadi sepasang suami-istri yang bahagia. Dari istrinya
itu, Jakatarub dikaruniai seorang anak yang diberi nama Atasangin. Di Banten
Jakatarub berputra seorang lagi bernama Ki Gede Bagong.
Pada suatu hari istrinya ingin pergi
memandikan anaknya ke sungai. Pada waktu itu periuk (tempat menanak nasinya)
masih diterpanggang di atas api. Sebelum pergi, bidadari Nawangwulan (istri
Jakatarub) itu berpesan kepada suaminya agar sekali-kali tidak membuka tutup
periuk itu. Tetapi sebaliknya, sang suami (Jakatarub) itu merasa penasaran akan
rahasia di balik larangan tersebut dan ingin membuka tutup periuk itu. Setelah
dibuka, terlihat di dalamnya ada padi yang masih bersatu dengan tangkainya.
Setelah sampai di rumah, istrinya
tahu bahwa suaminya telah membuka tutup periuk itu. Ia berkata kepada suaminya
dengan nada kesal, “Mas, mulai sekarang buatlah lesung (alat menumbuk padi)
dengan alunya untuk menumbuk padi, karena padi itu tidak dapat ditanak denga kulit
dan tangkainya sebab kau telah membuka tutup periuknya tadi.” Demikianlah si
istri tiap hari mengambil padi di lumbung untuk ditumbuk. Isi lumbung itupun
makin lama makin sedikit hingga hampir habis.
Pada suatu hari si istri pergi
mengambil padi lagi seperti biasa, tetapi dengan tak disangka-sangka
ditemukannya baju antrakesumanya yang hilang. Mulai saat itulah Nawangwulan
timbul keinginan utnuk kembali ke kahyangan. Jakatarub, sang suami, bertanya,
“bagaimana dengan anak kita yang masih kecil dan masih menyusu ini? Apakah kau
tega meninggalkannya?” “Ya apa boleh buat aku harus pergi,” jawab Nawangwulan,
istrinya. “Untuk itu Mas harus membuat anjang-anjang yang dirambati tanaman
labu putih. Jadi kalau anak kita ingin menyusu, letakkanlah anak itu di atas
anjang-anjang. Kemudian bakarlah merang ketan hitam. Kalau saya mencium
asapnya, saya akan turun ke bumi untuk menyusuinya.”
Demikianlah hal itu dilakukan oleh
Jakatarub sampai anaknya besar dan tidak menyusu lagi. Itulah sebabnya sampai
sekarang di Penganjang tidak boleh menanam labu putih dan menanam ketan hitam.

No comments:
Post a Comment